— Just Want You To Know

Tolong Jaga Perasaan Ibu

Kemarin aku bermimpi tentang ibuku. Mimpi di pagi buta yang kata orang mengandung makna. Dimimpi itu, beliau menjengukku lima kali, pulang pergi Pemalang Bumiayu seorang diri selama 5 hari berturut turut. Saat kutanya \”Kenapa datang kesini? beliau menjawab dengan wajah penuh senyum. ” Sekalian ta’ziah, tahlilan untuk orang yang meninggal kemarin. Aku kebingungan. Siapa pula yang meninggal? Dan kenapa Ibu selalu saja mendadak saat datang?. Itu yang kurasakan dalam mimpiku.
Mimpi itu membuatku tak tenang. Tak biasanya aku memimpikan Ibu. Saking jarangnya, mungkin mimpi terakhir tentang beliau sewaktu aku masih SLTP. Waktu kuhubungi Ibu dan kutanya, ternyata beliau sedang tidak enak badan, seorang diri di rumah.

I think this is a chemistry between a mother and her daughters. Yeah, ikatan batin.

Agak siang, sekitar pukul setengah sembilan, setelah aku menyelesaikan ritual mencuci setumpuk baju kotorku, aku putuskan untuk menghubungi beliau menggunakan jasa hp yang disewakan warung sekitar pondok. Sempat kebingungan saat menyadari bahwa nomor Ibu yang baru sama sekali tak kuhafal karna sudah terlanjur hafal nomor yang lama, yang hilang begitu saja, disepelekan, lalu terbuang tersapu bersama kotoran kotoran dilantai kamar kakakku di Semarang sana, di tempatnya menuntut ilmu. Aku pun mengirim pesan singkat ke Bapak, meminta tolong untuk memberi tahu Ibu bahwa anak perempuan ke-2nya ini minta ditelpon.
Selang beberapa menit yang kulalui dengan hati khawatir, akhirnya Ibu menelpon. Bertanya, “ada apa minta ditelpon?” seolah olah permintaanku ini adalah berita mengejutkan bagi beliau.
“Ngga ada apa apa jawabku kaku, dengan bahasa daerah yang selalu kugunakan jika berbincang dengan Ibu. Sengaja kutunda pengungkapan kekhawatiran yang muncul dari mimpi dini hari tadi.
“Mama lagi di PAUD nungguin adik kamu,” ujar Ibu dengan suara khasnya.
Langsung terbayang dalam benakku kesendirian dan kesabaran beliau setia menjaga adikku yang cukup rewel dan penakut itu.
Dengan takut takut akhirnya kubilang saja bahwa aku memimpikan beliau. Ibu tertawa pelan, bilang bahwa beliau tak memimpikan aku semalam, alih alih bermimpi membeli minyak di pasar.
“Bangun bangun ternyata adik kamu ngompol Nis lanjutnya sambil tertawa. Kutanggapi dengan senyuman, yang dengan bodohnya kukembangkan di bibir padahal jelas jelas beliau tak akan melihatnya.
Beliau mengganti topik pembicaraan, memberiku sedikit saran dalam menghadapi PKLku di Jogjakarta nanti. Kusambung dengan pertanyaan seputar Bulik ku dari Cikampek yang katanya akan datang berkunjung ke pondok, juga tentang kakakku yang hari ahad kemarin mengunjungi Bulik di Cikampek. Aku pikir, mungkin saja Bulik akan datang bersama kakakku itu.
Ibu menjawab seperlunya. Lalu, Do you know what did she said then??? Tak kuduga sebelumnya, pertanyaanku tentang kakak membuat Ibu mengungkapkan semua unek unek dalam hati Ibu, yang ditujukan kepada kakakku.
Khawatir yang selalu saja beliau rasakan yang akhir akhir ini berujung kekecewaan dan kemarahan terpendam.
“Tolong bilangin ke kakak kamu, pengrasan udah gede? Udah lulus makanya kalo pergi jauh ga bilang-bilang?
Deg!!! Hatiku mencelos mendengarnya. Kakakku memang pergi jauh, ke Cikampek untuk mengunjungi Bulik sekeluarga. Tapi aku tak tau bahwa ternyata kakak juga pergi ke Jakarta sebelumnya, entah untuk apa. Ibu marah, Ibu kecewa padanya yang tak meminta izin atau paling tidak sekedar mengabari Ibu dan Bapak di rumah. Tak tau bahwa sesungguhnya Ibu sangat khawatir dan peduli padanya.
“Ngapain sih dia pergi ke Jakarta ga bilang bilang? Kenapa juga dia malah nyuruh sepupunya untuk merahasiakan kepergian kakakmu?? ujar Ibu.
(dengan kata kata yang kurubah).
Aku tak tega mendengarnya. Sungguh tak tega mendengar nada kekecewaan yang amat dalam menyayat perasaan.
Ah kakakku yang malang, kenapa kau tega menyakiti perasaan Ibu? Apa salahnya menelpon atau paling tidak sekedar SMS untuk memberinya kabar??? Habiskah pulsamu? Sayang menggunakannya? Padahal pulsa itu pun selalu kau dapat dari Ibu pula??? Aku tak habis pikir kak, bingung aku di buatmu!

Aku tau, kakakku pun lebih tau, bahwa Ibu adalah orang yang pendiam. Kurang bisa dijadikan sahabat curhat, tidak sama seperti Ibu Ibu lain yang kami bayangkan. Tapi diamnya Ibu bukan berarti beliau tak peduli, bukan berarti beliau tak butuh dikabari oleh anak anaknya yang hidup jauh dari rumah!!! Seharusnya kakak tau itu. Seharusnya.
Aku harap kakakku menyadari kesalahanya itu. Bergegas menelpon Ibu, meminta maaf, membuka hati untuk lebih mengerti Ibu lebih dalam. Sebelum dia semakin jauh dari Ibu, sebelum dia memisahkan diri dilibas masa depan beberapa tahun lagi.

Facebook Comments

Leave a Reply

1 comment
  1. Abzal says: October 13, 20136:02 pm

    Going to put this ariltce to good use now.