— Just Want You To Know

Just Advokat

Memories of LKM-1

Kegelapan mulai datang memeluk separuh wajah bumi, hawa dingin semakin terasa, tapi suasana disekitarku masih ramai, penuh dengan senyum dan canda tawa dari wajah lelah para mahasiswa yang sebagian besar memakai kaos hijau tua bertuliskan Ahwal Syakhsiyah di bagian dada. Ya, kami adalah

mahasiswa jurusan Ahwal Syakhsiyah, Fakultas Syariah dan Hukum, di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kami baru saja selesai menjalani LKM-1, Latihan Kepemimpinan Mahasiswa ke-1, yang telah berlangsung selama empat hari tanpa henti, menghadirkan pengalaman berarti, yang mungkin takkan terlupa sampai kami tua nanti.

@@@@

“Selanjutnya…kelompok tiga, nama kelompoknya Advokat! Dengerin baik baik ya! Iwan, Aan, Dayat, Denur, Saddad, Muharam, Mr.Mani, Fauziah, Umi, Kamilah, Abdul, dan yang terakhir, Putra.” Ujar seorang panitia yang tak ku ketahui namanya, mengumumkan pembagian kelompok untuk LKM minggu depan. Aku yang datang terlambat ke technical meeting itu pun duduk di lantai sambil mencatat nama nama teman satu kelompokku.

“Wah…aku bareng sama Iwan nih?Yang pake kacamata itu kali ya?” Berbagai pertanyaan berkelebat dalam hatiku. “Hah?! Sama Dayat juga? Yang orang Jombang itu?Tapi kok…anak kelas A yang cewe cuma aku nih?L.” Mulai ku kerutkan kening memikirkan seperti apakah acara LKM nanti. “It’s OK, masih ada temen cewe dari AS B ama AS C, semoga aja anaknya asyik.” batinku. Suara panitia kembali menggema memenuhi telinga.

“ Dan untuk perlengkapan individu yang harus dibawa, catat baik baik : Alat makan, alat sholat, alat tulis, baju tidur, pakaian olahraga, Al Qur’an, kacang hijau 555 butir,”

“Haaaah??!” teriak para calon peserta LKM yang kurang lebih berjumlah 124 orang itu.

“ Saya ulangi, kacang hijau 555 butir! lalu kopi 2 bungkus, STMJ satu, gula merah 2 gandu, jahe 2 ruas, roti 3, telur 2 butir, jeruk 1, apel merah 1, mi instan 2, obat pribadi, dan yang terakhir, sarung atau selimut. Lalu untuk perlengkapan yang harus di bawa kelompok, kayu bakar ukuran 30 cm 20 buah, tikar 2, kertas karton putih 2, senter 3, spidol besar 1.” lanjut kak panitia tanpa ampun, tanpa memperdulikan wajah- wajah calon peserta yang mulai tersenyum getir mendengar pengumuman yang ia bacakan.

@@@@

“Wan, kamu dimana? Ayo kumpul.” tanyaku pada Iwan melalui sms. Aku duduk di salah satu bangku ruang X.9, menunggu anggota kelompok tiga yang sejak semalam sudah aku sms agar berkumpul membicarakan kelangsungan hidup Advokat.

Sepuluh menit aku menanti sambil kembali menyebarkan sms, satu orang mulai datang, namanya Dayat, asli Jombang.

“Mana yang namanya Aan?” tanyanya, aku pun segera menunjuk Anisa yang sedang berkumpul dengan kelompoknya. Linda, Dini, dan beberapa anak lain tertawa mendengar pertanyaan Dayat yang ternyata tidak mengenaliku, teman sekelasnya sendiri.

“Piye iki? Mana yang lain?” tanya Dayat setelah sadar kalau Aan itu aku.

“Ngga tau, dari tadi aku sms ngga pada ngebales” jawabku.

Setengah jam kemudian, seorang mahasiswa berkulit putih yang tinggi dan kurus datang dengan senyumnya yang lugu, namanya Muharam, satu orang lagi Mr.Mani, pria tinggi hitam manis yang ternyata berasal dari negara tetangga, dia asli Patani, Thailand. Aku kira orang Indonesia lho, hehe. Dengan penuh kesabaran kami pun menunggu anggota Advokat lain yang tak kunjung datang. Satu menit, dua menit, lima menit, sepuluh menit, seperempat jam, setengah jam, Ya Allah…kuatkan aku.

@@@@

Akhirnya hari pelaksanaan LKM pun datang. Kelompok Advokat mulai saling mengenal dan tampak terlihat kekompakannya. Ada Iwan, ketua kelompok Advokat, mahasiswa berkacamata yang konon pernah aktif di Paskibra. Ada Denur, mahasiswa asal Subang yang kurasa sangat mirip dengan teman semasa SMPku. Ada Sadad, pria berkacamata dari Kuningan. Ada Fauziyah, gadis putih cantik dengan wajah khas anak kecil yang lugu. Ada Umi, gadis manis dengan suara serak merdunya. Ada Kamilah, yang tinggi dan baik hati. Tak lupa ada Abdul, yang sering tersenyum tanpa ku pahami maksudnya. Ada juga Putra, pria asal Padang, yang cara bicaranya sangat khas di telinga. Dan ada aku, Aan, gadis dengan segala kelebihan di pipi bulatnya. Kamilah Advokat, pengacara di LKM-1 AS tercinta.

Kami bertemu dengan kegalakan Komisi Disiplin, pemberi kedislipinan yang sebelumnya jarang kami dapati dalam kehidupan sehari hari.

“Apa tema LKM?!”bentak salah satu panitia dari Komdis

“Membentuk karakter mahasiswa yang…yang…” salah satu peserta menjawab dengan terbata bata. Entah karna tidak hafal atau mungkin memang terpesona dengan kharisma panitia sampai sampai ia terlihat ketakutan.

“LKM ini sudah berapa hari?! Masa tema saja tidak hafal?! Dasar mahasiswa kuya..!!” panitia kembali membentak sambil mengacung acungkan gulungan karton putih ke udara. Melihat kejadian di depan mataku itu, aku hanya diam tak berkutik, takut.

@@@@

Ah, banyak sekali kejadian yang ingin ku tuliskan di kertas putih ini. Tapi keterbatasan kertas membuatku menyerah. Biarlah kenangan indah ini terkubur dalam memori otakku.

Terimakasih Allah, terimakasih kawan, terimakasih kakak kakak panitia…

Kita…untuk…selamanya…

Facebook Comments